Jumat, 09 September 2011

info SABANG: Akomodasi Di Sabang

info SABANG: Akomodasi Di Sabang: Untuk anda yang ingin berwisata di Pulau Weh, kini tersedia fasilitas akomodasi yang cukup variatif. Terdapat banyak tempat penginapan baik ...

Senin, 05 September 2011

Inilah Badan Milik Pemerintah yang Ikut Membangun Sabang

Badan Pengusahaan dan Pengelolaan Kawasan Pelabuhan Bebas Sabang (BPKS)


POTENSI DAN PELUANG INVESTASI
RINGKASAN POTENSI DAN PELUANG  INVESTASI
DI KAWASAN SABANG



POTENSI  LETAK GEOGRAFIS DAN PELABUHAN BEBAS

Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang yang ditetapkan dengan Undang-undang No 37 Tahun 2000 terdiri dari Kota Sabang (Pulau Weh, Pulau Klah, Pulau Rubiah, Pulau Seulako & Pulau Rondo) dan Kecamatan Pulau Aceh, Aceh Besar (Pulau Breuh, Pulau Nasi dan Pulau Teunom) yang meliputi luas wilayah 394 km2.

Kawasan Sabang memiliko posisi geografis yang strategis bagi jalur perdagangan dan pelayaran dunia karena karena terletak pada jalur masuk bagian barat antara Kawasan Asia Pasifik dan Asia Barat Daya. Sebagai pintu masuk Selat Malaka, Sabang dilalui rata-rata 50,000 kapal kontainer setiap tahunnya.

Kedalaman laut secara alami di Pelabuhan Sabang yang mencapai 22 meter membuat kawasan ini siap untuk menerima kedatangan kapal raksasa generasi masa akan datang.

Sebagai Pelabuhan Bebas, Kawasan Sabang merupakan kawasan yang berada di wilayah hukum Indonesia yang terpisah dari daerah pabean sehingga bebas dari :
§ tata niaga;
§ pengenaan bea masuk;
§ pajak bertambahan nilai;
§ pajak penjualan atas barang mewah.

Melalui PP Nomor 83 Tahun 2010, berbagai perizinan untuk melakukan investasi dan bisnis di Kawasan Sabang telah dilimpahkan dari Pemerintah Pusat kepada Dewan Kawasan Sabang.

SEKTOR PERIKANAN

Potensi Sektor Perikanan
Disamping potensi perairan teritorial (4-12 mil), Kawasan Sabang juga memiliki perairan ZEE 200 mil dan laut lepas (>ZEE 200 mil) yang produktif, mengandung potensi ikan pelagis dan demersal.

Hal yang sangat menunjang adalah adanya lokasi up welling. Front massa air terjadi akibat pertemuan 3 arus yang berasal dari perairan Samudera Indonesia, Selat Malaka dan Teluk Benggala. Oleh sebab itu Kawasan Sabang memiliki potensi yang besar untuk dijadikan sebagai home base untuk kegiatan penangkapan ikan di ZEE dan laut lepas.

Apabila Sabang dijadikan sebagai home base dalam upaya memanfaatkan perairan ZEE 200 mil dan internasional di Samudera Indonesia maka kapal-kapal ikan asing seperti dari Phuket dan Penang, akan mengalami penghematan terhadap waktu dan biaya.


Peluang Investasi Sektor Perikanan :

1.     Pusat bisnis pembuatan/perbaikan kapal dan penangkapan ikan
2.       Pusat bisnis penangkapan ikan
3.       Export procecing zone (EPZ)
4.       Export ikan (cargo laut dan udara)
5.       Budidaya perikanan laut
6.       Pusat Perikanan Internasional
7.       Pembangunan tempat pelelangan ikan
8.       Pembangunan pelabuhan perikanan
9.       Pembangunan industri pengawetan ikan
10.     Pengolahan tepung ikan
11.     Pembangunan ruang pendingin (cold storage)
SEKTOR PERDAGANGAN DAN INDUSTRI

Potensi Sektor Perdagangan dan Industri

Sebagai Kawasan Perdagangan dan Pelabuhan Bebas investasi dalam sektor perdagangan dan industri sangat potensial dilakukan di Kawasan Sabang. Dengan kemudahan bebas bea masuk dan tata niaga, serta bebas PPn dan Pajak Barang Mewah  maka mesin dan bahan baku dapat dimasukan ke Kawasan Sabang dengan harga lebih murah dibandingkan kawasan lainnya di Indonesia. Keunggulan ini akan meningkatkan daya saing dari produk yang diproduksi di Kawasan Sabang.

Selain itu bahan-bahan material dari kawasan daratan yang selama ini diproses di luar Aceh atau luar negeri akan lebih kompetitif jika diproses atau di eksport di atau melalui Kawasan Sabang.  Hasil alam dari kawasan darat Aceh seperti nilam, pinang, karet, sawit, kopra, coklat, kopi juga hasil-hasil pertambangan dan hutan lainnya.


Peluang Investasi Sektor Perdagangan dan Industri :

§ Pengembangan kawasan perdagangan menjadi kegiatan bisnis
§ Pengembagan prasarana dan sarana perdagangan
§ Pengembangan kawasan industri Balohan
§ Pengembangan industri pengelohan hasil hutan
§ Pengembangan industri perkapalan/galangan
§ Industri rekondisi otomotif
§ Bunker CPO
§ Refinery
§ Pengembangan industri kerajinan rakyat
§ Intalasi listrik dan air
SEKTOR PARIWISATA

Potensi Sektor Pariwisata

Kawasan Sabang dengan anugrah alam yang indah memiliki berbagai objek  wisata yang potensial untuk dikembangkan, diantanya:
1.    Tugu Kilometer Nol Indonesia
2.    Taman Laut dan Wisata Bawah Laut Iboih dan Pulau Rubiah
3.    Kawasan Wisata Gapang
4.    Kawasan Wisata Lhong Angen dengan Gua Sarang, Pantai Pasir Putih dan Wisata Hutan
5.    Danau Anuek Laot dan Danau Pria Laot
6.    Air Panas Kenekai, Air Panas Jaboi
7.    Pantai Kasih, Pantai Paradisi, Tapak Gajah dan Sumur Tua
8.    Kawasan Wisata Kota Tua/Kota Pelabuhan
9.    Kawasan Wisata Pulau Aceh

Kawasan Sabang juga terletak relatif dekat dengan pusat wisata Asia, yakni Phuket, Thailand dan Pulau Langkawi Malaysia.


Peluang Investasi Sektor Pariwisata :

§ Jasa akomodasi, transportasi dan paket rekreasi
§ Pengembangan jasa dan fasilitas wisata bahari dan olah raga pantai seperti sky air, selancar angin dan lainnya
§ Pengembangan investasi atraksi wisata bahari baik di kota Sabang maupun di Pulo Aceh seperti tracking, snorkeling, diving, hiking dan lainnya
§ Pengembangan penginapan tradisional, bungalow, cottage dan kondisi lahan yang tersedia
§ Pembangunan dan pengembangan restoran, rumah makan, cafee dan lain sebagainya.




Informasi Lebih Lanjut:
Kantor BPKS
Jl Panglima Polem Sabang-Aceh, Indonesia
Telp: +62652-22144 Fax: +62652-22143

Misteri Lukisan Darah Di Kokas Papua

MENGUNJUNGI Kokas, Kabupaten Fakfak, Papua Barat, laksana mengunjungi sebuah kota tua. Di wilayah distrik ini terdapat situs kuno yang menyimpan keajaiban dengan misteri di dalamnya. Tak hanya menarik, tapi juga mengundang orang untuk datang menjumput keelokannya.



Lukisan tebing yang merupakan situs kuno Kokas di Andamata, Distrik Kokas, Fak-Fak, Papua Barat. Lukisan ini merupakan peninggalan jaman prasejarah

Salah satu situs kuno yang terkenal di Kokas adalah lukisan di tebing bebatuan terjal. Oleh masyarakat setempat, tebing bebatuan terjal ini biasa disebut Tapurarang. Di Distrik Kokas kekayaan peninggalan sejak zaman prasejarah ini bisa dijumpai di Andamata, Fior, Forir, Darembang, dan Goras.

Lantas, apa keunikan lukisan berupa gambar telapak tangan manusia dan binatang di dinding tebing tersebut? Meski sudah berabad-abad lamanya, lukisan yang dibuat dengan pewarna dari bahan-bahan alami tersebut masih tetap terlihat jelas hingga saat ini. Warna merah pada lukisan tebing ini juga menyerupai warna darah manusia. Oleh karenanya masyarakat setempat juga sering menyebut lukisan tersebut sebagai lukisan cap tangan darah.

Bagi masyarakat setempat, lokasi lukisan tebing ini merupakan tempat yang disakralkan. Mereka percaya lukisan ini adalah wujud orang-orang yang dikutuk oleh arwah seorang nenek yang berubah menjadi setan kaborbor atau hantu yang diyakini sebagai penguasa lautan paling menakutkan. Nenek ini meninggal saat terjadi musibah yang menenggelamkan perahu yang ia tumpangi.

Dari seluruh penumpang di perahu itu, hanya nenek ini yang meninggal. Konon tak ada satu pun penumpang di atas perahu yang berusaha membantu sang nenek untuk menyelamatkan diri. Merasa sakit hati, arwah nenek yang telah berubah menjadi setan kaborbor mengutuk seluruh penumpang perahu yang berusaha menyelamatkan diri di atas tebing batu. Karena kutukan tersebut seluruh penumpang dan hasil-hasil laut yang dibawa seketika berubah menjadi lukisan tebing.

Di lokasi lukisan tebing ini Anda juga bisa menyaksikan kerangka-kerangka tulang manusia. Kerangka ini dipercaya merupakan kerangka leluhur atau nenek moyang masyarakat Kokas. Pada zaman dahulu masyarakat di sini memiliki kebiasaan meletakkan jasad leluhur yang meninggal di tebing batu, gua, tanjung ataupun di bawah pohon besar yang dianggap sakral.



Tulang tengkorak terdapat di tebing di Andamata, Distrik Kokas, Fak-Fak, Papua Barat. Tulang tengkorak manusia ini adalah sisa kebiasaan masyarakat setempat yang tidak menguburkan jazad leluhur melainkan meletakkannya di tebing batu, gua, tanjung ataupun di bawah pohon besar yang khusus atau dianggap sakral.

Tertarik menelusuri jejak prasejarah di Kokas? Dari terminal Fakfak Anda harus menempuh perjalanan darat menuju Kokas menggunakan angkutan luar kota. Jarak Fakfak-Kokas sejauh 50 kilometer akan ditempuh dalam waktu sekitar 2 jam. Anda cukup merogoh kocek sebesar Rp 25.000 per orang, sekali jalan. Tiba di Kokas, perjalanan masih harus dilanjutkan menggunakan longboat dengan waktu tempuh sekitar 1 jam. Jika air sedang pasang, Anda bisa naik ke tebing dan menyaksikan lukisan ini dari dekat. Namun, jika air surut, keindahan lukisan tebing ini hanya bisa dinikmati dari atas longboat.

MENGUNJUNGI Kokas, Kabupaten Fakfak, Papua Barat laksana mengunjungi sebuah kota tua. Di wilayah distrik ini terdapat situs kuno yang menyimpan keajaiban dengan misteri di dalamnya. Tak hanya menarik, namun ini juga mengundang orang untuk datang menjumput keelokannya.

Salah satu situs kuno yang terkenal di Kokas adalah lukisan di tebing bebatuan terjal. Oleh masyarakat setempat tebing bebatuan terjal ini biasa disebut Tapurarang. Di Distrik Kokas kekayaan peninggalan sejak jaman prasejarah ini bisa dijumpai di Andamata, Fior, Forir, Darembang, dan Goras.

Lantas apa keunikan lukisan berupa gambar telapak tangan manusia dan binatang di dinding tebing tersebut? Meski sudah berabad-abad lamanya, lukisan yang dibuat mengunakan pewarna dari bahan-bahan alami tersebut masih tetap terlihat dengan jelas hingga saat ini. Warna merah pada lukisan tebing ini juga menyerupai warna darah manusia.Oleh karenanya masyarakat setempat juga sering menyebut lukisan tersebut sebagai lukisan cap tangan darah.

Bagi masyarakat setempat lokasi lukisan tebing ini merupakan tempat yang disakralkan. Mereka percaya lukisan ini adalah wujud orang-orang yang dikutuk oleh arwah seorang nenek yang berubah menjadi setan kaborbor atau hantu yang diyakini sebagai penguasa lautan paling menakutkan. Nenek ini meninggal saat terjadi musibah yang menenggelamkan perahu yang ia tumpangi.



Lukisan tebing yang merupakan situs kuno Kokas di Andamata, Distrik Kokas, Fak-Fak, Papua Barat

Dari seluruh penumpang di perahu itu, hanya nenek ini yang meninggal. Konon tak ada satupun penumpang di atas perahu yang berusaha membantu sang nenek untuk menyelamatkan diri. Merasa sakit hati, arwah nenek yang telah berubah menjadi setan kaborbor mengutuk seluruh penumpang perahu yang berusaha menyelamatkan diri di atas tebing batu. Karena kutukan tersebut seluruh penumpang dan hasil-hasil laut yang dibawa seketika berubah menjadi lukisan tebing.

Di lokasi lukisan tebing ini anda juga bisa menyaksikan kerangka-kerangka tulang manusia. Kerangka ini dipercaya merupakan kerangka leluhur atau nenek moyang masyarakat Kokas. Pada zaman dahulu masyarakat di sini memiliki kebiasaan meletakkan jasad leluhur yang meninggal di tebing batu, gua, tanjung ataupun di bawah pohon besar yang dianggap sakral.

Tertarik menelusuri jejak prasejarah di Kokas? Dari terminal Fakfak anda harus menempuh perjalanan darat menuju Kokas menggunakan angkutan luar kota. Jarak Fakfak-Kokas sejauh 50 kilometer akan ditempuh dalam waktu sekitar 2 jam. Anda cukup merogoh kocek sebesar Rp. 25.000 perorang, one way.

Tiba di Kokas perjalanan masih harus dilanjutkan menggunakan longboat dengan waktu tempuh sekitar 1 jam. Jika air sedang pasang, anda bisa naik ke tebing dan menyaksikan lukisan ini dari dekat. Namun jika air surut, keindahan lukisan tebing ini hanya bisa dinikmati dari atas longboat.



SUMBER